
Selamat Hari Peduli Autisme Sedunia 2025. (foto: freepik.com).
Unesa.ac.id., SURABAYA–Rabu, 2 April 2025 merupakan Hari Peduli Autisme Sedunia atau World Autism Awareness Day (WAAD). Pada peringatan tahun ini, WAAD mengusung tema “Advancing Neurodiversity and the UN Sustainable development Goals (SDGs).”
Tema ini menyoroti keberagaman cara kerja atau perkembangan otak setiap orang. Selain itu, juga menekankan kebijakan dan praktik inklusif dapat mendorong perubahan positif bagi kelompok autisme di seluruh dunia.
Menurut guru besar disabilitas Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Budiyanto, WAAD tahun ini harus menjadi momentum untuk memajukan neurodiversitas dan menjadikannya sebagai bagian dari program pembangunan berkelanjutan.
“Ini bukan hanya tentang hak individu dengan autisme, tetapi juga tentang bagaimana keberagaman ini dapat berkontribusi dalam membangun dunia yang lebih inklusif,” ucapnya.
Kesadaran dan gerakan ini penting untuk membangun masyarakat yang lebih ramah dan inklusif. Tujuan tersebut perlu didukung dengan pemahaman dan kesadaran bersama dalam menerima kehadiran dan menjamin hak-hak kelompok autisme.
Butuh Kesadaran dan Kepekaan
Kasubdit Pusat Unggulan Iptek Disabilitas (PUID) Unesa itu mengajak untuk memahami penyandang autisme yang secara umum memiliki sifat tertutup dan hiperaktif. Mereka memiliki hambatan dalam berkomunikasi dan berperilaku.
Hambatan ini menuntut kepekaan untuk memahami apa yang mereka butuhkan. Selain itu, autisme menyukai bidang yang tidak banyak berhubungan dengan orang lain, untuk itu memang perlu support system dari lingkungan sekitar.
“Berkomunikasi dengan mereka ada caranya. Jika moodnya lagi jelek, bisa difasilitasi dengan apa yang mereka senangi atau sukai. Lalu, setelah moodnya stabil, baru diajak komunikasi. Anak autis jika sudah suka pada sesuatu, mereka akan sangat memperhatikannya,” paparnya.
Stigma dan Perlunya Edukasi

Siswa SLB Negeri Gedangan menggunakan EMO-VR, inovasi yang dirancang tim PUID Unesa. EMO-VR merupakan teknologi yang membantu siswa autis berinteraksi dalam simulasi lingkungan virtual untuk meningkatkan keterampilan regulasi diri, seperti mengelola emosi dan beradaptasi dalam proses pembelajaran. (foto: Humas Unesa)
Dengan hambatan komunikasi dan perilaku yang dimilikinya itu, autism masih harus berhadapan dengan stigma masyarakat. Stigma tersebut masih cukup kuat dan sering kali menghambat mereka untuk mendapatkan kesempatan yang setara.
Stigma bisa dalam berbagai bentuk, misalnya banyak yang masih menganggap autisme sebagai suatu penyakit, padahal autisme adalah perbedaan neurologis yang alami. Kelompok autis juga distereotipkan individu dengan kecerdasan rendah, padahal mereka memiliki bakat luar biasa.
Selain itu, masih banyak perilaku dan kebijakan yang diskriminatif terhadap kelompok autis. Pun, banyak yang menjadi korban perundungan baik secara langsung di lingkungan mereka maupun di media sosial.
Karena berbagai aspek itulah dan pada momentum WAAD inilah, diperlukan upaya berupa edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat, akses pendidikan dan dunia kerja yang inklusi, dan dukungan keluarga dan masyarakat, hingga pemerintah.
“Paling utama memang dari keluarga untuk menerima mereka sebagai individu yang spesial. Dukung penuh mereka dengan ikhlas dan ketulusan, karena itu yang akan menentukan bagaimana tumbuh kembang anaknya ke depan,” tukasnya.
Kontribusi Unesa
Lalu bagaimana peran Unesa? Budiyanto menjelaskan bahwa Unesa memiliki perhatian lebih terhadap kelompok disabilitas, termasuk kelompok dengan spektrum autisme. Berbagi program edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat dilakukan, baik di sekolah maupun langsung di masyarakat.
Selain itu, Unesa memiliki Unit Layanan Anak Berkebutuhan Khusus (ULABK), salah satu layanannya yaitu mahasiswa atau anak penyandang autis. Berbagai inovasi pun dihasilkan baik oleh dosen maupun mahasiswa.
Sebut saja seperti inovasi papan zona regulasi emosi yang dikembangkan tim peminatan autisme mahasiswa Pendidikan Luar Biasa (PLB) Unesa. Selain itu, juga ada inovasi EMO VR, perangkat berbasisVirtual Reality (VR) ini untuk membantu anak autis mengatasi tantangan dalam komunikasi dan regulasi emosi. [*]
***
Reporter: Fatimah Najmus Shofa (FBS)
Editor: @zam*
Foto 1: Freepik.com
Foto 2: Tim Humas Unesa
Share It On: