
Ilustrasi peran orang tua dan guru dalam menumbuhkan minat baca atau literasi anak sejak dini. (foto: rawpixel.com/freepik.com).
Unesa.ac.id., SURABAYA—Dosen sekaligus pegiat literasi dari Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Much. Koiri menyoroti masih rendahnya minat anak-anak membaca buku pada Hari Buku Anak Sedunia, 2 April 2025.
Berbagai angka minat baca buku di Indonesia sudah banyak yang menunjukkan fenomena tersebut, misalnya UNESCO yang mencatat dari seribu orang, hanya satu yang rajin membaca.
Kendati angka literasi nasional yang semakin meningkat berdasarkan laporan Perpusnas tahun 2024 lalu, tetap saja perlu ada upaya serius dan gebrakan untuk meningkatkan minat baca atau literasi sejak usia dini.
Menurut dosen kelahiran Madiun itu, minat baca anak atau pelajar bahkan mahasiswa salah satunya dipengaruhi oleh perhatian mereka yang berlebihan terhadap media sosial hingga gaming.
Perhatian yang terfokus pada media sosial dan gaming ini tidak hanya menyita waktu untuk aktivitas lain seperti membaca, tetapi juga memiliki dampak negatif bagi kesehatan mental.
“Anak sekarang lebih senang scrolling medsos, main game, daripada membaca buku atau menulis,” ucap dosen Prodi S-1 Sastra Inggris FBS Unesa itu.
Fenomena dan Tantangan
Menurutnya, kondisi ini tidak bisa serta-merta untuk menyalahkan anak-anak, karena teknologi memang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
“Kita perlu memahami bahwa membaca itu bukan hanya membaca teks tertulis. Dalam perspektif Kajian Budaya, segala bentuk informasi, baik dalam bentuk teks tulis, visual, maupun audio-visual, termasuk dalam kategori teks,” ujarnya.
Dengan kata lain, menonton video di TikTok atau YouTube juga merupakan proses membaca, hanya saja dalam bentuk yang berbeda.
Tantangannya memang, bagaimana mengarahkan konsumsi media sosial ini menjadi lebih produktif, sehingga anak-anak tidak hanya sebagai penonton, tetapi juga bisa menjadi kreator.

Much Khoiri Dosen Prodi S-1 Sastra Inggris sekaligus pegiat literasi dan penulis produktif Unesa.
Selain itu, informasi yang diperoleh di media sosial pada umumnya dikemas dalam bentuk yang sederhana dan tidak mendalam, pun keabsahannya memang harus diverifikasi lebih lanjut.
Untuk itu, perlu memperdalam dan menyeimbangkan informasi yang diperoleh di medsos melalui sumber bacaan salah satunya melalui buku. Sajian informasi dan ilmu pengetahuan melalui buku memiliki prosedur dan sistematika yang ketat, sehingga berbeda dengan informasi yang tersebar di media sosial.
Peran Orang Tua, Guru, Kebijakan
Dia menekankan, antara buku dan media sosial merupakan dua sumber informasi atau sumber belajar yang saling melengkapi. Bermedsos tidak untuk ditinggalkan sepenuhnya, hanya saja perlu diatur dan diseimbangkan dengan membaca dan menulis.
Lantas bagaimana cara meningkatkan minat baca atau literasi pada anak? Penulis puluhan buku itu menyarankan beberapa strategi yang bisa dilakukan. Pertama, mengubah konsumsi menjadi produksi. Anak-anak harus diarahkan untuk tidak hanya mengonsumsi konten positif di media sosial tetapi juga menghasilkan karya berbasis literasi.
Kedua, menyediakan bahan bacaan yang menarik. Ketiga, memberlakukan pembatasan dan pengawasan. Orang tua tetap harus memiliki kendali dalam membimbing dan mengawasi anak dalam menggunakan media sosial.
Beberapa negara seperti Tiongkok, Australia, dan Swedia telah melarang penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun, sementara negara seperti Prancis, Italia, dan Belanda menerapkan pembatasan ketat.
Keempat, menjadi teladan bagi anak. Orang tua bahkan guru harus memberikan keteladanan (model) yang baik dalam membaca dan menulis. Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat. Itulah sebabnya, tindakan berbicara lebih keras daripada perintah atau nasehat. [*]
***
Reporter: Muhammad Azhar Adi Mas’ud
Editor: @zam*
Foto 1: rawpixel.com/freepik.com
Foto 2: Dok. Much Koiri
Share It On: