
Ilustrasi memaknai keadaan belum bisa mudik agar tidak overthinking (foto: tirachardz/freepik.com)
Unesa.ac.id. SURABAYA—Lebaran selalu membawa narasi tentang kepulangan. Namun, bagi sebagian orang seperti mahasiswa atau pekerja, mudik tidak selalu menjadi pilihan yang memungkinkan. Keterbatasan kondisi atau tanggung jawab tertentu sering kali mengharuskan mereka melewatkan hari raya di perantauan.
Di tengah keriuhan media sosial yang mengidentikkan mudik sebagai simbol kebahagiaan, perasaan tidak nyaman atau overthinking kerap muncul menyapa mereka yang tetap tinggal. Dosen Fakultas Psikologi (Fpsi)Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Riza Noviana Khoirunnisa, menjelaskan bahwa perasaan tersebut adalah hal yang manusiawi.
Menurutnya, rasa cemas tidak hanya dipengaruhi oleh situasi jauh dari rumah atau keluarga, tetapi juga dari bagaimana cara seseorang memaknainya. Agar momen Idulfitri tetap terasa hangat meski jauh dari keluarga, Ia membagikan beberapa perspektif yang menenangkan untuk dijalani.
Mengenali dan Menata Pikiran
Langkah awal untuk berdamai dengan keadaan adalah dengan menyadari kemunculan berbagai kekhawatiran dan overthingking seperti takut dianggap gagal, dianggap tidak peduli dengan keluarga, kehilangan momen kebersamaan, dan berbagai bentuk kekhawatiran lainnya.
Riza menyarankan penggunaan pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) sederhana, yaitu dengan menguji apakah kekhawatiran yang muncul benar-benar nyata atau sekadar asumsi yang berlebihan. Dengan melihat situasi secara objektif, rasa khawatir akan perlahan mereda, sehingga kita bisa melihat bahwa tidak mudik bukanlah sebuah kegagalan.

Riza Noviana Khoirunnisa, dosen Fakultas Psikologi (Fpsi) Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Mengurangi atau Jeda Media Sosial
Paparan aktivitas mudik orang lain di media sosial sering kali menjadi pemicu rasa minder atau tertinggal. Menjeda sejenak konsumsi media sosial bisa menjadi pilihan bijak agar kita bisa kembali fokus pada diri sendiri.
Ia menekankan pentingnya penerimaan diri (self-acceptance), yakni kemampuan menghargai kondisi saat ini tanpa syarat. “Ketika kita mampu menerima situasi dengan lapang dada, hati akan menjadi lebih tenang dan tidak mudah merasa "kurang".” Bebernya.
Memaknai Kepulangan secara Luas
Idulfitri pada esensinya adalah tentang kemenangan dan kembalinya fitrah, bukan sekadar perjalanan fisik lintas kota. Silaturahmi tetap bisa terjalin erat melalui teknologi tanpa mengurangi rasa hormat. Selain itu, momen sepi di perantauan sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk refleksi diri dan membangun kembali energi positif.
Selain ketiga langkah tersebut, Riza juga mengingatkan pentingnya melatih mindfulness atau kesadaran penuh agar pikiran tidak terjebak dalam kecemasan masa lalu atau masa depan.
Jika nantinya muncul rasa tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang lain, terutama terkait pertanyaan pribadi, hal itu adalah wajar. Membangun kepercayaan diri yang sehat dan sesekali bersikap asertif dapat membantu kita menjaga batasan tanpa perlu menyakiti perasaan orang lain.
Ingat Kembali Tujuan: Berjarak untuk Masa Depan
Poin yang tidak kalah penting adalah kembali fokus pada tujuan utama berada di perantauan. Ingatlah bahwa keberadaan jauh dari rumah dan keluarga, meski harus melewatkan momen mudik adalah bagian dari perjuangan besar untuk masa depan dan kebanggaan keluarga besar.
Menyadari bahwa "absen" sementara ini adalah investasi untuk kesuksesan di masa depan akan memberikan kekuatan mental yang luar biasa. Fokus pada tujuan besar ini akan mengubah rasa sepi menjadi rasa bangga atas ketangguhan dan perjuangan untuk mencapai cita yang diharapkan. ][
***
Reporter: Fatimah Najmus Shofa (FBS)
Editor: @zam*
Ilustrasi atau Foto 1: Freepik.com; Foto 2: Riza Noviana Khoirunnisa
Share It On: